Sidang Sengketa Lahan Prianto vs PT NPR Ungkap Aliran Dana ke Kepala Desa

- Redaktur

Rabu, 11 Maret 2026 - 04:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana persidangan gugatan lahan antara Prianto bin Samsuri melawan PT Nusa Persada Resources (NPR) di ruang sidang Tirta Pengadilan Negeri Muara Teweh, Barito Utara, Senin (9/3/2026). Sidang menghadirkan saksi dari pihak tergugat terkait sengketa lahan yang kini menjadi perhatian publik.

Suasana persidangan gugatan lahan antara Prianto bin Samsuri melawan PT Nusa Persada Resources (NPR) di ruang sidang Tirta Pengadilan Negeri Muara Teweh, Barito Utara, Senin (9/3/2026). Sidang menghadirkan saksi dari pihak tergugat terkait sengketa lahan yang kini menjadi perhatian publik.

Trackperistiwa.com, MUARA TEWEH:  Sengketa lahan antara warga dengan perusahaan tambang kembali memanas di Pengadilan Negeri Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara. Gugatan perdata yang diajukan Prianto bin Samsuri, warga Desa Karendan, terhadap perusahaan tambang batubara PT Nusa Persada Resources (NPR) kembali disidangkan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari pihak tergugat, Senin (9/3/2026).

Perkara yang terdaftar dengan Nomor: 29/Pdt.G/2025/PN Mtw ini bermula dari tudingan bahwa perusahaan telah menggarap lahan ladang berpindah milik warga serta merusak pondok dan kebun tanpa izin pemiliknya. Dalam prosesnya, terungkap adanya pembayaran tali asih kepada dua kepala desa dengan nilai miliaran rupiah.

Berdasarkan dokumen kesepakatan tertanggal 26 Maret 2025, PT NPR disebut menyalurkan dana tali asih kepada Ricy, Kepala Desa Karendan, sebesar Rp2.612.500.000 atau sekitar 55 persen, melalui rekening pribadi Bank BRI. Sementara Mukti Ali, Kepala Desa Muara Pari, menerima Rp2.137.500.000 atau 45 persen, juga melalui rekening pribadi. Total dana yang disebut dalam kesepakatan tersebut mencapai Rp4.750.000.000.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kesepakatan tersebut diketahui dibuat di Mapolres Barito Utara dan disebut disaksikan oleh aparat kepolisian setempat pada saat itu.

Dalam sidang yang berlangsung di ruang Tirta Pengadilan Negeri Muara Teweh, pihak tergugat menghadirkan dua saksi, yakni Yik bin Durahman yang mengaku sebagai pemilik awal lahan, serta Ani Sukma yang disebut sebagai Ketua Kelompok Tani Desa Muara Pari.

Namun jalannya persidangan sempat diwarnai kejanggalan. Saat ditanya majelis hakim, Ani Sukma awalnya menyatakan tidak memiliki hubungan keluarga dengan Mukti Ali.

“Tidak ada hubungan keluarga,” ujar Ani Sukma di hadapan majelis hakim.

Pernyataan itu kemudian dibantah oleh saksi lainnya, Yik bin Durahman.

“Ani Sukma adalah keluarga dengan Kades Mukti Ali. Istrinya adik kandung dari istri Pak Kades,” terang Yik kepada majelis hakim.

Majelis hakim kemudian kembali memanggil Ani Sukma untuk memberikan klarifikasi. Dalam keterangannya yang kedua, ia akhirnya mengakui hubungan keluarga tersebut.

“Ya yang mulia, saya memang adik ipar Pak Kades Mukti Ali. Istri saya adik kandung dari istri Pak Kades,” ujarnya.

Baca Juga:  Dua Oknum Polisi di Riau Dicopot usai Marahi Korban Pemerkosaan

Dalam kesaksiannya, Yik juga menjelaskan bahwa dokumen kelompok tani Desa Muara Pari yang menjadi dasar pembayaran oleh PT NPR disusun dan diajukan dari rumah Mukti Ali.

“Ya di rumah Pak Kades. Usulan pencairan tali asih diajukan melalui Arif Subahan, dan pembagian uangnya juga disaksikan Arif Subahan,” kata Yik di persidangan.

Ketika ditanya majelis hakim mengenai aktivitas kelompok tani tersebut, Yik mengaku mereka tidak pernah benar-benar mengelola lahan sebagaimana disebutkan dalam dokumen.

“Kelompok tani kami sebenarnya tidak ada mengelola lahan. Waktu itu hanya merintis saja, sampai sekarang masih hutan perawan,” ungkapnya.

Ia juga mengaku tidak mengetahui bahwa lahan tersebut sedang menjadi objek gugatan Prianto.

Di luar persidangan, Yik tetap pada keterangannya bahwa kelompok tani tersebut tidak pernah mengelola lahan seluas 479 hektare sebagaimana disebutkan.

Sementara itu, kuasa hukum Prianto dari kantor hukum Boyamin Saiman, CH Harno, dan Ardian Pratomo menilai kesaksian yang muncul di persidangan semakin memperjelas duduk perkara sengketa tersebut.

“Walaupun mereka menerima ganti rugi, dari keterangan saksi hari ini terlihat bahwa faktanya mereka tidak memiliki lahan di sana,” ujar tim kuasa hukum Prianto.

Menurutnya, kesaksian tersebut diharapkan dapat menjadi pertimbangan majelis hakim dalam menilai hak kelola yang dipersoalkan.

“Kalaupun mereka punya hak kelola, dari keterangan hari ini jelas berada di luar lahan milik Prianto,” tegasnya.

Prianto sendiri menyatakan bahwa kesaksian dalam sidang hari itu memperkuat keyakinannya bahwa lahan yang disengketakan bukan berada dalam wilayah pengelolaan pihak lain.

“Siapa pun yang menzalimi saya, berarti melawan kuasa Tuhan yang menciptakan alam semesta,” kata Prianto usai sidang.

Sidang dipimpin oleh majelis hakim yang diketuai Sugianur, S.H., M.H., dengan anggota M. Riduansyah, S.H. dan Khoirun Naja, S.H.. Persidangan turut dihadiri kuasa hukum PT NPR Agustinus, S.H. serta kuasa hukum Mukti Ali Yordan Novendri Manik, S.H.

 

Majelis hakim kemudian menunda persidangan dan menjadwalkan sidang lanjutan pada 17 Maret 2026 dengan agenda penyampaian bukti tambahan dari para pihak, (Fzn/TP).

Berita Terkait

Tim Penasihat Hukum Isran Kuis Gelar Konferensi Pers Usai Sidang Replik JPU
Ramadan Bergema, UMKM Jelore Bersinar di Festival Melak
Jalan Umum Dibuka untuk ODOL, Warga Bentian Besar Bereaksi
Pengacara Minta PN Kutai Barat Bebaskan Isran Kuis, Nilai Unsur Pidana Tak Terbukti
Program Cetak Sawah Rapak Oros Kini Jadi Semak, Kementan Soroti Validitas Data LBS Kubar
Kementan dan Bapanas Turun ke Kubar, Soroti Alih Fungsi Lahan Sawah Jadi Sawit
Limbah B3 Tumpah di Simpang Dingin–Peninggir, Sejumlah Pengendara Terluka
Warga Bentian Besar Desak Penindakan ODOL
Berita ini 45 kali dibaca
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 04:00 WIB

Sidang Sengketa Lahan Prianto vs PT NPR Ungkap Aliran Dana ke Kepala Desa

Sabtu, 7 Maret 2026 - 13:31 WIB

Tim Penasihat Hukum Isran Kuis Gelar Konferensi Pers Usai Sidang Replik JPU

Jumat, 27 Februari 2026 - 11:33 WIB

Ramadan Bergema, UMKM Jelore Bersinar di Festival Melak

Jumat, 27 Februari 2026 - 11:18 WIB

Jalan Umum Dibuka untuk ODOL, Warga Bentian Besar Bereaksi

Jumat, 27 Februari 2026 - 05:05 WIB

Pengacara Minta PN Kutai Barat Bebaskan Isran Kuis, Nilai Unsur Pidana Tak Terbukti

Selasa, 24 Februari 2026 - 03:38 WIB

Kementan dan Bapanas Turun ke Kubar, Soroti Alih Fungsi Lahan Sawah Jadi Sawit

Jumat, 20 Februari 2026 - 08:27 WIB

Limbah B3 Tumpah di Simpang Dingin–Peninggir, Sejumlah Pengendara Terluka

Rabu, 18 Februari 2026 - 15:27 WIB

Warga Bentian Besar Desak Penindakan ODOL

Berita Terbaru

Foto :Suasana pembukaan Festival Ramadan 1447 Hijriah di Melak yang dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, tokoh agama, dan masyarakat.(Fzn/TP)

Berita

Ramadan Bergema, UMKM Jelore Bersinar di Festival Melak

Jumat, 27 Feb 2026 - 11:33 WIB

Aktivitas truk CPO ODOL di Bentian Besar kembali menjadi sorotan. Warga mempertanyakan konsistensi pemerintah dalam menegakkan aturan batas muatan kendaraan.

Berita

Jalan Umum Dibuka untuk ODOL, Warga Bentian Besar Bereaksi

Jumat, 27 Feb 2026 - 11:18 WIB