Trackperistiwa.com – Sendawar – Festival Ramadan 1447 Hijriah di Kecamatan Melak resmi dibuka oleh Bupati Kutai Barat, Fredrick Edwin, Kamis (26/02/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Ramadan Bergema, Mengukir Prestasi, Mencetak Generasi Qur’an” ini menjadi momentum pembinaan karakter generasi muda sekaligus penguatan ekonomi masyarakat melalui pelibatan UMKM lokal.
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa Festival Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi momentum strategis untuk menanamkan nilai keimanan dan memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an.
“Melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan kita mengenai Al-Qur’an, menumbuhkan motivasi keagamaan demi meraih prestasi, serta mencetak generasi yang membanggakan orang tua, sekolah, masyarakat, dan daerah,” ujar Fredrick Edwin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga mengajak seluruh sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk terus bersinergi dalam membimbing anak-anak agar memiliki motivasi keagamaan yang kuat.
“Jangan hanya berorientasi pada kemenangan, tetapi jadikan setiap proses sebagai pembelajaran yang berharga,” pesannya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Bupati bersama istri turut menyisihkan dana sebesar Rp10 juta untuk mendukung pelaksanaan festival tersebut.
“Saya juga memohon maaf apabila anggaran yang tersedia belum maksimal. Secara pribadi, saya dan istri menyisihkan rezeki sebesar Rp10 juta untuk kegiatan ini,” ungkapnya.
Selain kegiatan keagamaan, Festival Ramadan juga diramaikan Pasar Ramadan yang melibatkan pelaku UMKM lokal.
Jelore, Maskot Kuliner Kutai Barat

Salah satu pelaku UMKM yang turut meramaikan festival adalah Jelore, produk kue kering unggulan yang diproduksi Ibu Siti Halizah atau yang dikenal sebagai Ibu Produksi Jelore. Produk best seller mereka adalah Nastar Jelore dengan selai nanas lokal dari Danau Aco dan Tanjung Isuy.
“Produk kami yang paling best seller adalah Nastar Jelore. Untuk selainya kami gunakan nanas dari Danau Aco dan Tanjung Isuy karena kualitasnya bagus,” jelasnya.
Selain nastar, Jelore juga memproduksi berbagai kue kering lainnya, ayam goreng, hingga kerupuk ikan belida yang bekerja sama dengan keluarga di Tanjung Isuy dan Tanjung Jone.
Dari sisi penjualan, ia mengaku pendapatan cukup stabil meski masih menghadapi kendala produksi.
“Untuk pendapatan lumayan, rata-rata bisa mencapai Rp1 juta, walaupun kadang juga di bawah itu,” tuturnya.
Harga produk pun terjangkau, mulai Rp12 ribu untuk kemasan kecil hingga Rp200 ribu per kilogram. Bahkan, pembeli yang membawa toples sendiri bisa mendapatkan harga lebih murah.
Namun, kendala utama yang dihadapi adalah ketergantungan pada panas matahari untuk proses pengeringan.
“Kalau tidak ada panas matahari, kami tidak bisa produksi. Pernah sudah buat adonan tapi tidak ada panas, akhirnya terpaksa dibuang,” ungkapnya.
Pesanan dalam jumlah besar pun kerap tidak dapat dipenuhi, termasuk permintaan rutin dari Sangatta.
“Kami sering kirim ke Sangatta, hampir setiap bulan bisa 100 pieces. Tapi kalau tidak ada matahari, stok kosong,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat membantu menyediakan rumah kaca sebagai solusi produksi.
“Harapan kami ada bantuan rumah kaca untuk produksi, supaya pengeringan tetap bisa dilakukan meskipun tidak ada panas matahari,” harapnya.
Festival Ramadan 1447 Hijriah ini diharapkan tidak hanya memperkuat nilai religius generasi muda, tetapi juga menjadi momentum penguatan ekonomi masyarakat melalui dukungan terhadap UMKM lokal di Kutai Barat.
(Fzn/TP)











